Strategi Pemerintah Jokowi Tekan Ketergantungan Alkes Impor

Strategi Pemerintah Jokowi Tekan Ketergantungan Alkes Impor

Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan Oscar Primadi mengatakan, Kementerian Kesehatan miliki sebagian siasat untuk mendorong produksi obat-obatan dan alat kebugaran dalam negeri untuk dapat berkembang. Mulai berasal dari bantuan riset, registrasi, produksi, distribusi, sampai fase penjualan.

Kementerian Kesehatan termasuk mendorong promosi pemanfaatan alat kebugaran dalam negeri bersama dengan menaikkan kesadaran penggunaannya oleh dokter dan tenaga kebugaran di Indonesia.

“Kemenkes memandang investasi merupakan faktor mutlak dalam mewujudkan kemandirian farmasi dan alat kesehatan. Pemerintah kudu beri tambahan fasilitas fiskal dan nonfiskal untuk mendorong produksi obat-obatan dan alat kebugaran serta pemanfaatannya bersama dengan mekanisme TKDN,” ujar Oskar dalam diskusi daring, Jakarta, Kamis (15/7).

Oskar mengatakan, investasi di industri farmasi dan alat kebugaran baik dalam negeri maupun luar negeri diarahkan dalam penguatan kapasitas produksi di Indonesia. Caranya melalui transfer ilmu dan transfer teknologi, membangun ekosistem pemanfaatan alat kesehatan, supaya pelayanan kebugaran yang dapat dipenuhi berasal dari produk-produk dalam negeri.

Hingga kini, sebanyak 79 jenis berasal dari keseluruhan 358 alat kebugaran produksi dalam negeri sudah dapat mengambil alih produk-produk impor. Sebanyak 79 jenis alat kebugaran selanjutnya dapat mengambil alih product impor layaknya elektrokardiogram, implan ortopedi, nebulizer, dan oksimeter jual alat kesehatan .

Tingkatkan Kapasitas Produksi
Industri farmasi dan alat kebugaran di Indonesia miliki kapasitas untuk mendorong produksi dalam mencukupi kebutuhan sektor kebugaran di Indonesia. Dari keseluruhan 19 jenis alat kebugaran yang termasuk dalam 10 besar transaksi berdasarkan nilai dan kuantitas produknya, hampir 90 persen sudah dapat diproduksi di dalam negeri.

Oscar mengungkapkan bahwa nilai pasar farmasi dan alat kebugaran di Indonesia terhadap 2019 mencapai Rp88,6 triliun. “Ini pasar yang terlampau besar, kudu dikembangkan untuk industri farmasi di dalam negeri,” katanya.

Oskar menambahkan, di jaman pandemi, industri alat kebugaran dalam negeri makin teruji bersama dengan produksi alat level menengah sampai tinggi layaknya ventilator, high flow nasal cannula (HFNC), powered air purifiying respirator (PAPR), rapid test antibodi, rapid test antigen, dan reagen RT-PCR.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *